Jumat, 31 Maret 2017

Surat Cinta dari Alam

‘Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air mata berlinang
Emas intanmu terkenang
Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang susah
Merintih dan berdoa’
“Ibu pertiwi”
cipt. Ismail marzuki

Akhir-akhir ini banyak bencana alam yang terjadi di sekitar kita, banjir dimana-mana, gempa menghancurkan kota, gunung berapi erupsi dan bencana alam lainnya yg mengakibatkan kerusakan alam di lingkungan sekitar kita.
Lingkungan sebagai suatu sistem, artinya bahwa lingkungan adalah suatu yang terdiri atas komponen-komponen yang bekerja secara teratur sebagai suatu kesatuan atau seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Lingkungan terdiri atas unsur biotik (manusia, hewan, dan tumbuhan) dan abiotik (udara, air, tanah, iklim, dan lainnya). Allah SWT berfirman, yang artinya :
“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan Kami pancangkan padanya gunung-gunung serta Kami tumbuhkan di sana segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan padanya sumber-sumber kehidupan untuk keperluanmu, dan (Kami ciptakan pula) makhluk-makhluk yang bukan kamu pemberi rezekinya.” (Qs. Al-Hijr : 19-20)
Masalah lingkungan adalah berbicara tentang kelangsungan hidup (manusia dan alam). Melestarikan lingkungan sama maknanya dengan menjamin kelangsungan hidup manusia dan segala yag ada di alam dan sekitarnya. Sebaliknya, merusak lingkungan hidup, apapun bentuknya, merupakan ancaman serius bagi kelangsungan hidup alam dan segala isinya, tidak terkecuali manusia. Sejak 14 abad silam telah memiliki perhatian khusus terhadap persoalan lingkungan dengan cara memberikan peringatan akibat merusak lingkungan, antara lain yang dinyatakan dalam Al-Qur’an surat Ar-Ruum ayat 41 :
(ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ)
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Qs. Ar-Ruum : 41)
Dalam ayat tersebut dikatakan, kerusakan lingkungan akibat ulah tangan manusia yang fasiq (perusak) akan ditimpakan akan ditimpakan kepada manusia itu sendiri (baik mereka yang merusak ataupun yang tidak terlibat) supaya mereka kembali ke jalan yang benar (la’allahum yarji’un).
Rasulullah SAW pun pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Al-Bukhory dan Muslim yang artinya sebagai berikut :
“Barangsiapa diantara orang Islam yang menanam tanaman maka hasil tanamannya yang dimakan akan menjadi sedekah, dan hasil tanaman yang dicuri menjadi sedekah. Dan barangsiapa yang merusak tanamannya, maka akan menjadi sedekahnya sampai hari kiamat.”(HR. Muslim)
“..... Rasulullah SAW bersabda : tidaklah seorang muslim menanam tanaman, kemudian tanaman itu dimakan oleh burung, manusia, ataupun hewan, kecuali baginya dengan tanaman itu adalah sadaqah.” (HR. Al-Bukhory dan Muslim dari Anas)
Kita sebagai umat Islam apabila memiliki lahan jangan sampai ditelantarkan, karena lahan itu apabila dipergunakan dengan baik akan memberi manfaat kepada pemiliknya. Jika pemiliknya tidak mampu untuk memanfaatkannya maka sebaiknya lahan itu diberikan kepada saudaranya atau orang yang lebih bisa memanfaatkannya, dalam sebuah hadist “Dari Abdullah bin Musa, mengabarkan Anza’i dari ‘Athai dari Jabir ra. berkata : Meraka biasa memberikan lahan untuk dikelola dengan imbalan sepertiga, seperempat, dan setengah, maka Nabi SAW bersabda : ‘Barang siapa memiliki lahan, maka hendaklah ia tanami atau ia serahkan kepada saudaranya (untuk dimanfaatkan), apabila ia enggan melakukannya, menahan (tetap memiliki) tanah itu’.” (HR. Al-Bukhory)
Rasulllah melarang merusak lingkungan mulai dari perbuatan yang sangat kecil dan remeh seperti melarang membuang kotoran (manusia) dibawah pohon yang sedang berbuah, di aliran sungai, di tengah jalan, atau ditempat orang berteduh. Rasulullah juga sangat peduli terhadap kelestarian satwa, sebagaimana diceritakan dalam hadist riwayat Abu Dawud. “Rasulullah pernah menegur salah seorang sahabatnya yang pada saat perjalanan mereka mengambil anak burung yang berada disarangnya. Karena anaknya dibawa oleh salah seorang dari rombongan Rasulullah tersebut, maka sang induk terpaksa mengikuti terus kemana rombongan itu berjalan. Melihat yang demikian, Rasulullah menegur lalu menegur sahabatnya tersebut dengan mengatakan ‘siapakah yang telah menyusahkan induk burung ini dan mengambil anaknya ? Kembalikan anak burung tersebut kepada induknya’.”
Berikut adalah beberapa ayat dalam Al-Qur’an yang menganjurkan kita untuk tidak merusak lingkungan disekitar kita :
Qs. Al-Araf : 56
(وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ)
Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.
Qs. Al-Qasas : 77
(وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ)
Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.
Qs. Al-Baqarah : 11
(وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ)
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.”
Kesimpulannya adalah Islam itu agama yang mengajarkan pada umatnya untuk selalu mencintai lingkungan untuk kemaslahatan bersama. Mencintai lingkungan adalah bagian dari spirit Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin atau agam pembawa berkah dan kesejahteraan ummatnya, maka dari itu kita harus memelihara, tidak merusak, dan memanfaatkan lingkungan disekitar kita dengan sebaik mungkin.




Orang yang CERDAS ialah orang yang TAQWA
Orang yang BENAR ialah orang yang DAPAT DIPERCAYA
Orang yang BERIMAN ialah orang yang MAMPU MENJAGA LINGKUNGANNYA

Oleh Ust. Abu Bakar Royani, M.Ag pada Kajian Rohani Malimpa

0 komentar:

Posting Komentar